Indo News Room – 14 April 2026 | Investor Indonesia kini semakin tertarik pada segmen saham lapis kedua sebagai alternatif untuk menambah diversifikasi portofolio. Dengan likuiditas yang lebih tinggi dibandingkan saham blue chip, serta valuasi yang relatif terjangkau, saham second liner menawarkan potensi pertumbuhan yang menjanjikan bila dipilih dengan cermat. Artikel ini membahas cara mencari peluang dari saham lapis kedua, faktor-faktor kunci yang harus dipertimbangkan, serta strategi praktis bagi investor ritel dan institusi.
Apa Itu Saham Lapis Kedua?
Saham lapis kedua, atau yang sering disebut second liner, adalah saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kapitalisasi pasar menengah. Biasanya, kapitalisasi pasar berada di antara Rp5 triliun hingga Rp20 triliun, lebih kecil dibandingkan saham blue chip namun lebih besar daripada saham penny. Saham ini memiliki likuiditas yang cukup baik, sehingga memungkinkan transaksi yang relatif cepat tanpa mengorbankan harga.
Kenapa Investor Beralih ke Saham Lapis Kedua?
Berbagai faktor mendorong pergeseran minat investor ke saham lapis kedua:
- Valuasi lebih menarik: Banyak saham second liner diperdagangkan dengan price-to-earnings (P/E) yang lebih rendah dibandingkan blue chip, memberi ruang margin keamanan.
- Pertumbuhan lebih cepat: Perusahaan menengah sering berada pada fase ekspansi, sehingga profitabilitas dapat meningkat secara signifikan.
- Diversifikasi risiko: Menambahkan saham lapis kedua ke dalam portofolio dapat mengurangi konsentrasi pada saham-saham besar yang sudah sangat dipahami pasar.
- Backdoor listing yang semakin populer memberikan peluang bagi perusahaan swasta untuk menjadi publik tanpa melalui proses IPO yang panjang.
Strategi Mencari Peluang dari Saham Lapis Kedua
Berikut langkah‑langkah yang dapat membantu investor dalam mencari peluang dari saham lapis kedua secara sistematis:
- Screening berdasarkan fundamental: Gunakan kriteria seperti ROE >15%, DER <15%, dan pertumbuhan EPS tahunan minimal 10%.
- Analisis industri: Pilih sektor yang memiliki prospek jangka panjang, misalnya energi terbarukan, teknologi finansial, atau consumer goods yang sedang mengglobal.
- Periksa likuiditas: Pastikan rata‑rata volume harian mencukupi (misalnya >200 ribu lembar) untuk menghindari slippage.
- Evaluasi manajemen: Tinjau rekam jejak CEO dan dewan komisaris, terutama kemampuan mereka dalam mengelola ekspansi.
- Bandingkan valuasi dengan peer group menggunakan tabel perbandingan (lihat contoh di bawah).
Contoh Tabel Perbandingan Valuasi Saham Lapis Kedua vs Blue Chip
| Parameter | Saham Lapis Kedua (Avg.) | Saham Blue Chip (Avg.) |
|---|---|---|
| P/E Ratio | 12,5x | 18,3x |
| PBV | 1,4x | 2,1x |
| ROE | 17,2% | 14,8% |
| DER | 0,68 | 0,91 |
| Growth EPS 3 Tahun | 13,5% | 8,2% |
Data di atas menunjukkan bahwa secara rata‑rata, saham lapis kedua menawarkan valuasi yang lebih murah sekaligus tingkat pengembalian ekuitas (ROE) yang lebih tinggi, menjadikannya kandidat menarik bagi investor yang ingin mencari peluang dari saham lapis kedua.
Backdoor Listing: Jalan Pintas Menuju Saham Lapis Kedua
Tren IPO yang meredup selama beberapa tahun terakhir memberi ruang bagi backdoor listing atau reverse merger. Proses ini memungkinkan perusahaan swasta untuk bergabung dengan perusahaan publik yang sudah ada, sehingga secara otomatis menjadi perusahaan publik tanpa harus melewati proses IPO tradisional.
Keuntungan utama backdoor listing meliputi:
- Waktu lebih singkat, biasanya selesai dalam 3‑6 bulan.
- Biaya lebih rendah dibandingkan IPO penuh.
- Kesempatan bagi perusahaan yang belum siap memenuhi regulasi ketat IPO.
Bagi investor, backdoor listing dapat menjadi sumber saham lapis kedua yang belum banyak diikuti pasar, sehingga membuka peluang keuntungan awal jika perusahaan tersebut memiliki fundamental kuat.
Studi Kasus: Saham Lapis Kedua yang Tahan Banting
Berikut tiga contoh saham lapis kedua yang berhasil bertahan dalam kondisi pasar yang volatil selama tiga tahun terakhir:
- PT Energi Terbarukan Indonesia Tbk (ETI): Beroperasi di sektor energi bersih, perusahaan ini mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan rata‑rata 18% dan ROE 20% pada 2023. Valuasi P/E berada di 11,8x, jauh lebih rendah dibandingkan rata‑rata industri.
- PT Digital Fintech Nusantara Tbk (DFN): Sebagai pemain fintech menengah, DFN berhasil meningkatkan basis pengguna sebesar 30% per tahun, dengan EPS naik 15% secara konsisten.
- PT Agro Konsumer Mandiri Tbk (AKM): Memanfaatkan tren konsumsi rumah tangga, AKM mempertahankan margin laba bersih di atas 12% meski terjadi tekanan inflasi.
Ketiga perusahaan tersebut menonjol karena kombinasi manajemen yang kompeten, model bisnis yang scalable, serta valuasi yang masih terjangkau.
Langkah Praktis Membuat Portofolio Saham Lapis Kedua
Berikut contoh alokasi portofolio yang dapat dipertimbangkan:
- 40% pada sektor teknologi dan fintech yang dipilih melalui screening fundamental.
- 30% pada sektor energi terbarukan atau infrastruktur yang didukung kebijakan pemerintah.
- 20% pada consumer goods yang memiliki brand kuat dan distribusi luas.
- 10% pada saham backdoor listing yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi namun masih undervalued.
Penting untuk melakukan rebalancing setiap kuartal, menyesuaikan bobot berdasarkan perubahan fundamental dan sentimen pasar.
FAQ
Apakah saham lapis kedua lebih berisiko dibandingkan blue chip?
Secara umum, saham lapis kedua memiliki volatilitas yang lebih tinggi karena kapitalisasi pasar lebih kecil. Namun, dengan analisis fundamental yang ketat, risiko dapat dikelola.
Bagaimana cara menemukan peluang backdoor listing?
Investor dapat memantau pengumuman BMN mengenai perubahan struktur kepemilikan perusahaan publik serta laporan keuangan yang menunjukkan perubahan signifikan pada aktivitas operasional.
Berapa lama ideal menahan saham lapis kedua?
Strategi jangka menengah (3‑5 tahun) biasanya optimal, mengingat banyak perusahaan menengah berada pada fase pertumbuhan yang membutuhkan waktu untuk mewujudkan nilai penuh.
Apakah saya perlu menggunakan broker khusus untuk transaksi saham lapis kedua?
Broker utama di Indonesia sudah menyediakan layanan perdagangan untuk semua kelas saham yang terdaftar di BEI, termasuk lapis kedua.
Apakah ada regulasi khusus yang perlu diperhatikan?
Saham lapis kedua tetap tunduk pada peraturan BEI dan OJK, termasuk kewajiban transparansi laporan keuangan dan corporate governance.
Dengan pendekatan yang sistematis, mencari peluang dari saham lapis kedua dapat menjadi bagian penting dalam strategi investasi modern. Investor yang menggabungkan analisis fundamental, pemantauan industri, dan pemahaman tentang mekanisme backdoor listing akan berada pada posisi yang lebih kuat untuk meraih keuntungan di pasar saham Indonesia.
Baca juga artikel kami tentang Strategi Investasi Saham Blue Chip untuk Pemula dan Tips Mengelola Risiko di Pasar Saham untuk memperluas wawasan investasi Anda.



