HomeBeritaJelang Hari Bhayangkara ke-80 Kapolri Pimpin Penyucian Panji Rastra Sewakottama: Membedah Nilai-Nilai...

Jelang Hari Bhayangkara ke-80 Kapolri Pimpin Penyucian Panji Rastra Sewakottama: Membedah Nilai-Nilai Tribrata

Date:

Indo News Room – 25 Juni 2026 | Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Polri melakukan upacara penyucian Panji Rastra Sewakottama sebagai simbol peneguhan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya. Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, memimpin upacara ini di Ruang Rapat Utama Mabes Polri, Jakarta.

Nilai-Nilai Tribrata

Nilai-nilai Tribrata adalah dasar bagi setiap anggota Polri. Tiga prinsip ini adalah:

Baca juga:
  • Bhakti Negara: Pengabdian kepada negara dan bangsa.
  • Trisula: Pengabdian kepada rakyat, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Tri Dharma: Pengabdian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Prosesi Penyucian Panji Rastra Sewakottama

Upacara penyucian Panji Rastra Sewakottama dilakukan dalam tiga tahapan:

Baca juga:
  1. Pembersihan panji using sikat sebagai simbol upaya membersihkan berbagai kekurangan sekaligus tekad untuk terus melakukan perbaikan dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
  2. Pemercikan air dari sumber mata air di 34 wilayah Indonesia yang telah disatukan di Jakarta. Prosesi tersebut melambangkan persatuan, kebersamaan, dan semangat pengabdian seluruh jajaran kepolisian dari Sabang hingga Merauke dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
  3. Pemberian wewangian pada Panji Rastra Sewakottama sebagai harapan agar setiap pengabdian Polri dapat mengharumkan nama institusi serta semakin dicintai dan dipercaya oleh masyarakat.

Kesimpulan

Upacara penyucian Panji Rastra Sewakottama merupakan simbol peneguhan nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya, serta komitmen Polri untuk terus hadir sebagai institusi yang profesional, modern, tepercaya, serta semakin dekat dengan masyarakat dalam semangat Hari Bhayangkara ke-80.

Baca juga:
Telmo Polak Awuf
Telmo Polak Awuf
Dibesarkan di antara derak ketik cepat dan aroma tinta, Telmo Polak Awuf menganggap kucingnya lebih berwawasan sejarah daripada kebanyakan dosen. Tahun 2022, ia menukar mikrofon ruang redaksi dengan pena, menulis dari Surabaya sambil sesekali mengintip buku-buku sejarah yang lebih tebal daripada menu makanan kucingnya. Hasilnya? Karya yang menggabungkan fakta kuno dengan candaan modern, cocok dibaca sambil menunggu kucingnya selesai menguasai dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related