Indo News Room – 06 Juli 2026 | Pernahkah kalian scrolling handphone seharian dan merasa seperti disetir oleh beranda? Ketika muncul orang lain yang mengenakan baju A kalian menginginkannnya, ada orang lain me-review makanan B kalian craving juga. Anehnya tidak sekadar makanan dan pakaian saja, tetapi sampai gaya hidup pun sekarang banyak yang mengikuti For Your Page (FYP). Akibatnya apa? Kita akan kehilangan keunikan diri kita sendiri, apa yang harusnya menjadi pilihan individual menjadi standar bersama.
Hegemoni Media Sosial
Hegemoni media sosial adalah bagaimana sebuah standarisasi kelompok mengatur gaya hidup hingga menghilangkan jati diri. Saat ini banyak sekali terjadi hegemoni dalam bermedia sosial, contohnya dalam konteks kecantikan, kebanyakan orang Indonesia menganggap perempuan cantik itu harus putih, tinggi, berambut lurus dan sebagainya, hal tersebut terjadi juga pada media sosial.
Contoh Hegemoni Media Sosial
Contohnya, ketika banyak konten kreator berada pada tempat yang viral, contoh kafe X dan yang menonton mengikuti gaya tersebut dengan alibi tempatnya bagus, padahal mereka sedang diatur hidupnya secara tidak langsung oleh apa yang ditontonnya. Hal tersebut sering terjadi karena apa yang menurutnya bahagia, maka mereka rela menganggap itu adalah pilihannya sendiri.
Menghindari Hegemoni Media Sosial
Untuk menghindari hegemoni media sosial, kita harus mulai menentukan makna hidup kita sendiri. Hal yang membuat diri kita bahagia tanpa melihat standar media sosial. Apapun yang menurut kita cantik, makanan yang menurut kita enak, tempat yang menurut kita bagus, tidak selalu berdasarkan dari hal-hal yang viral saja.
Perbedaan dengan Media Sosial
Bahwa kita masih memiliki pikiran kita sendiri, bukan sekadar salinan dari orang lain. Kita harus belajar untuk tidak selalu mengikuti apa yang orang lain lakukan, dan mulai menemukan identitas kita sendiri.
Takut Menghilang
Apakah kita sedang mengalami hal yang sama? Apakah kita sudah mulai bingung memprioritaskan antara kepentingan pribadi atau hanya mengikuti sosial media saja? Hal tersebut yang perlu diubah dari pemikiran kita, karena dengan menjadi apa yang kita lihat tidak akan membuat diri kita istimewa, justru sebaliknya kita akan menjadi pribadi yang tidak memiliki prinsip, hidupnya mengalir mengikuti arus sosial media, dan bahkan kehilangan esensi diri sendiri.



