HomeBeritaVietnam Sita 50.000 Sepatu Nike Palsu: Skandal Besar di Balik Produk Tiruan

Vietnam Sita 50.000 Sepatu Nike Palsu: Skandal Besar di Balik Produk Tiruan

Date:

Indo News Room – 25 Juli 2026 | Vietnam menyita hampir 50.000 pasang sepatu yang diduga palsu bermerek Nike dalam penggerebekan di sebuah pabrik di Ho Chi Minh City. Kasus ini menunjukkan skala besar perdagangan ilegal dan barang palsu di negara tersebut.

Penyelidikan dan Penyitaan

Kementerian Perdagangan Vietnam melalui badan pengawas pasar menyatakan pengungkapan kasus bermula dari informasi yang diberikan US Homeland Security. Dalam inspeksi tersebut, petugas menemukan sepatu dan berbagai material berlabel Nike, Nike Air, dan Air Jordan dengan nilai pasar lebih dari 100 miliar dong atau sekitar USD 3,8 juta.

Baca juga:

Proses Hukum dan Konsekuensi

Otoritas Vietnam menyebut kasus ini melibatkan volume barang palsu dalam jumlah besar serta jaringan organisasi dan perusahaan yang mencakup AS, China, dan Vietnam. Pengungkapan ini terjadi saat Vietnam memperketat pemberantasan perdagangan ilegal dan barang palsu di tengah meningkatnya tekanan dari AS terkait surplus perdagangan Vietnam yang terus membesar.

No Nilai Pasar Volume
1 Rp 68,24 Miliar 50.000 pasang sepatu

Penyitaan ini membuktikan upaya Vietnam dalam memerangi perdagangan ilegal dan melindungi hak kekayaan intelektual.

Baca juga:

Kesimpulan

Kasus penyitaan sepatu Nike palsu di Vietnam menunjukkan bahwa pemerintah negara tersebut serius dalam memerangi perdagangan ilegal dan melindungi hak-hak produsen asli.

FAQ

  • Berapa jumlah sepatu Nike palsu yang disita di Vietnam? 50.000 pasang sepatu.
  • Nilai pasar dari sepatu-sepatu tersebut? Rp 68,24 Miliar.
  • Apa yang memicu penyitaan ini? Informasi dari US Homeland Security.
Baca juga:
Atmananda Anacleto Tymothy
Atmananda Anacleto Tymothy
Aku masih ingat saat pertama kali Atmananda mengendarai motor tua melintasi pasar tradisional Surabaya, mencatat cerita-cerita yang kini jadi artikel‑artikelnya; sejak 2022, ia menapaki jejak jurnalistik sambil terus mengejar riff gitar indie yang selalu mengalun di sela‑sela perjalanan. Dari Yogyakarta, ia menjelajah nusantara, menukar kopi dengan para nelayan, mengabadikan suara laut dan deru mesin, hingga menulis laporan yang terasa seperti obrolan santai di kafe pinggir jalan. Hobi otomotifnya tak pernah jauh, begitu pula selera musiknya yang selalu menemukan nada baru di setiap sudut pulau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related