Indo News Room – 21 April 2026 | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa harga Pertamax berpotensi naik bila kondisi pasar minyak dunia tidak menunjukkan penurunan. Pernyataan ini disampaikan pada konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin, 20 April 2026, sekaligus menjadi indikator utama kebijakan penyesuaian harga BBM non‑subsidi di Indonesia.
Faktor‑faktor Penentu Kenaikan Harga Pertamax
Berbagai faktor eksternal dan internal menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menentukan apakah harga Pertamax akan mengalami penyesuaian. Berikut poin‑poin kunci yang diuraikan oleh Bahlil:
- Harga minyak mentah dunia (ICP): Harga Indonesia Crude Price (ICP) menjadi acuan utama. Selama rata‑rata ICP di bawah US$100 per barel, pemerintah berjanji tidak akan menaikkan BBM bersubsidi.
- Geopolitik Timur Tengah: Konflik yang terus berlanjut, khususnya perang di Iran, memicu volatilitas harga minyak mentah dunia.
- Kebijakan subsidi: Pemerintah hanya menjamin stabilitas harga BBM bersubsidi, bukan BBM non‑subsidi seperti Pertamax.
Pengaruh Harga Minyak Dunia Terhadap ICP
Data rata‑rata ICP Januari–April 2026 berada pada kisaran US$76 per barel. Jika tren ini tetap atau meningkat, kemungkinan penyesuaian harga Pertamax akan semakin kuat. Bahlil menambahkan bahwa tahap pertama kebijakan penyesuaian sedang dijalankan, sementara tahap berikutnya akan diputuskan berdasarkan pergerakan harga pasar.
Skema Penyesuaian Harga BBM Non‑Subsidi
Berikut tabel komparasi harga BBM non‑subsidi sebelum dan sesudah penyesuaian terakhir (April 2026):
| Jenis BBM | Harga Sebelum (Rp/Liter) | Harga Sesudah (Rp/Liter) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Pertamax Turbo | 13.100 | 19.400 | Naik 48,8% |
| Dexlite | 14.200 | 23.600 | Naik 66,2% |
| Pertamina Dex | 14.500 | 23.900 | Naik 64,8% |
| Pertamax (RON 92) | 12.300 | 12.300 | Belum naik |
| Pertamax Green | 12.900 | 12.900 | Belum naik |
Data menunjukkan bahwa penyesuaian signifikan telah diterapkan pada varian premium, sementara Pertamax dan Pertamax Green masih berada pada level harga sebelumnya.
Implikasi Kebijakan Terhadap Konsumen Menengah
Kebijakan penyesuaian harga BBM non‑subsidi memiliki dampak langsung pada kelas menengah yang biasanya mengandalkan Pertamax sebagai bahan bakar utama. Bahlil mengingatkan bahwa:
- Jika harga BBM non‑subsidi naik, konsumen menengah berpotensi beralih ke BBM bersubsidi, yang dapat menimbulkan beban pada program subsidi.
- Pembatasan pembelian BBM bersubsidi maksimal 50 liter per hari tetap diterapkan untuk mencegah penyalahgunaan.
Ia menegaskan bahwa hak subsidi harus tetap dilindungi bagi masyarakat yang paling membutuhkan, dan tidak boleh dimanfaatkan oleh kalangan yang mampu secara ekonomi.
Strategi Pemerintah Menghadapi Fluktuasi Harga
Pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah antisipatif, antara lain:
- Monitoring harian harga ICP dan pasar internasional melalui platform monitoring ICP.
- Pengaturan kuota pembelian BBM subsidi untuk mencegah penumpukan stok di tangan pihak tidak berhak.
- Koordinasi dengan PT Pertamina (Persero) untuk menyesuaikan tarif distribusi sesuai dengan harga internasional.
Reaksi Pasar dan Analisis Ekonomi
Para analis pasar energi menilai bahwa potensi kenaikan harga Pertamax masih tinggi mengingat ketidakstabilan geopolitik dan permintaan global yang terus meningkat. Beberapa poin penting yang diangkat:
- Permintaan Asia: Asia, khususnya China dan India, meningkatkan konsumsi minyak mentah, menekan pasokan global.
- Cadangan minyak Indonesia: Penemuan gas raksasa oleh Eni di Kutai, Kalimantan Timur, memberikan harapan jangka panjang, namun tidak serta‑merta menurunkan harga dunia dalam jangka pendek.
Sehingga, prediksi jangka menengah menunjukkan bahwa harga Pertamax dapat naik sebesar 5‑10% bila ICP tetap di atas US$80 per barel selama tiga kuartal ke depan.
Langkah Konsumen Menghadapi Potensi Kenaikan
Berikut beberapa rekomendasi praktis bagi konsumen kendaraan pribadi untuk mengurangi beban bila harga Pertamax naik:
- Optimalkan efisiensi bahan bakar dengan melakukan perawatan rutin mesin.
- Manfaatkan program kebijakan BBM subsidi bila memenuhi syarat penghasilan.
- Pertimbangkan penggunaan kendaraan listrik atau hibrida bila tersedia insentif pemerintah.
Dengan langkah‑langkah tersebut, dampak kenaikan harga dapat diminimalisir.
Secara keseluruhan, kebijakan Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah akan terus menyesuaikan harga BBM non‑subsidi, termasuk Pertamax, berdasarkan dinamika pasar internasional. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan memanfaatkan program subsidi yang ada secara tepat.



