Indo News Room – 12 April 2026 | Zulala santriwati di Depok yang hilang sejak Februari lalu ditemukan di Surabaya menjadi sorotan utama media nasional pada awal April 2026. Kasus ini menyoroti tantangan keamanan anak muda, peran komunitas pesantren, serta dinamika pencarian orang hilang di Indonesia. Berikut rangkaian lengkap peristiwa, reaksi keluarga, dan analisis sosial yang dapat membantu memahami implikasi lebih luas.
Zulala santriwati di Depok yang hilang sejak Februari lalu ditemukan di Surabaya: Kronologi Lengkap
Menurut laporan resmi Pondok Pesantren Al Muhajirin, Cilangkap, Tapos, Kota Depok, Zulanda Azizi (17) menghilang pada 2 Februari 2026 setelah meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan niatnya untuk bepergian. Selama hampir tiga bulan, Zulala berpindah-pindah kota, mulai dari Cibinong, Bandung, Tasikmalaya, Jakarta, hingga akhirnya terdeteksi di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 3 April 2026.
Timeline Pergerakan
- 2 Februari 2026 – Zulala meninggalkan pesantren dengan surat singkat, tidak ada identitas resmi.
- 5-10 Februari – Dilaporkan berada di Terminal Cibinong, menunggu transportasi ke Bandung.
- 12-20 Februari – Terekam berada di Bandung, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tasikmalaya.
- 22-28 Februari – Berpindah ke Jakarta, berusaha mencari pekerjaan atau bantuan.
- 1 Maret – 30 Maret – Tidak ada jejak jelas, dugaan berkeliling Jawa Barat.
- 3 April 2026 – Ditemukan oleh tiga santri di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dalam keadaan sehat.
Rangkaian Penemuan dan Proses Penyelamatan
Pada Jumat, 3 April 2026, tiga santri yang sedang menunggu kapal di pelabuhan Tanjung Perak memperhatikan seorang remaja perempuan yang tampak kebingungan. Mereka mengonfirmasi identitasnya sebagai Zulala santriwati di Depok yang hilang. Paman Zulala, Makus, menerima kabar melalui telepon pada 11 April 2026 dan langsung mengirim kerabat di Surabaya untuk menjemputnya.
Proses penyelamatan berlangsung cepat karena tidak ada tanda-tanda kekerasan atau luka serius. Zulala berada dalam kondisi sehat, meskipun tidak membawa dokumen identitas. Pihak kepolisian setempat mencatat laporan penemuan dan membantu proses kembali ke Depok.
Reaksi Keluarga dan Komunitas
Makus, paman Zulala, mengaku sangat emosional setelah menerima kabar. “Saya menangis karena tidak tahu bagaimana cara membawanya pulang, karena Zulala tidak punya identitas,” ujarnya. Keluarga menyatakan kebahagiaan besar atas kembalinya Zulala, sekaligus menegaskan pentingnya dukungan moral dan logistik selama proses pencarian.
Komunitas pesantren Al Muhajirin juga memberikan sambutan hangat. Kepala pesantren menegaskan komitmen untuk meningkatkan prosedur keamanan santri, termasuk pencatatan keluar-masuk yang lebih ketat dan pelatihan mitigasi risiko bagi santri yang ingin bepergian.
Analisis Sosial dan Keamanan
Kejadian ini membuka diskusi luas tentang keamanan remaja di lingkungan pesantren dan kota. Beberapa poin utama yang muncul:
- Keterbatasan Identitas: Zulala tidak memiliki KTP atau dokumen resmi ketika pergi, menyulitkan pelacakan resmi.
- Mobilitas Antar Kota: Pergerakan cepat antar kota menunjukkan perlunya jaringan informasi lintas wilayah.
- Peran Komunitas: Penemuan oleh tiga santri menegaskan pentingnya solidaritas internal dalam komunitas keagamaan.
- Kebijakan Pemerintah: Diperlukan regulasi yang mempermudah pelaporan orang hilang serta koordinasi antara kepolisian daerah.
Data Perjalanan Zulala: Komparasi Rute
| Rute | Kota Awal | Kota Tujuan | Transportasi | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Depok | Cibinong | Angkutan Umum | Berhenti singkat, mencari tiket |
| 2 | Cibinong | Bandung | Kereta Api | Berlanjut ke Bandung |
| 3 | Bandung | Tasikmalaya | Bus | Perjalanan singkat |
| 4 | Tasikmalaya | Jakarta | Kereta Api | Berakhir di Stasiun Gambir |
| 5 | Jakarta | Surabaya | Kereta Api + Bus | Berakhir di Pelabuhan Tanjung Perak |
Implikasi bagi Kebijakan Pesantren
Kasus Zulala menekankan perlunya standar operasional prosedur (SOP) yang lebih ketat di pesantren, terutama terkait izin keluar, pencatatan identitas, dan jaringan komunikasi darurat. Beberapa rekomendasi yang muncul antara lain:
- Penerapan kartu identitas santri yang terintegrasi dengan data kepolisian.
- Pembuatan unit respons cepat di setiap pesantren untuk menangani laporan orang hilang.
- Pelatihan keterampilan hidup (life skill) bagi santri, termasuk cara menghubungi keluarga dan lembaga resmi.
- Kerjasama dengan transportasi publik untuk memonitor pergerakan santri yang bepergian.
FAQ
- Apakah Zulala masih memiliki identitas resmi? Pada saat ditemukan, Zulala tidak membawa KTP atau dokumen lain, namun identitasnya telah diverifikasi melalui keluarga dan pesantren.
- Bagaimana cara keluarga melaporkan orang hilang? Keluarga dapat melaporkan ke kantor polisi terdekat dan mengisi formulir Laporan Orang Hilang (LOH).
- Apa peran pihak pesantren dalam kasus ini? Pesantren bertanggung jawab mencatat keluar-masuk santri, memberikan dukungan moral, dan berkoordinasi dengan pihak berwajib.
- Apakah ada risiko keamanan bagi santri yang bepergian sendiri? Ya, terutama jika tanpa identitas resmi atau pengawasan. Oleh karena itu, pesantren diimbau menambah prosedur persetujuan orang tua.
Kasus Zulala santriwati di Depok yang hilang sejak Februari lalu ditemukan di Surabaya memberikan pelajaran penting bagi masyarakat, lembaga pendidikan, dan otoritas keamanan. Keterlibatan komunitas, transparansi informasi, serta kebijakan yang adaptif dapat mencegah kejadian serupa di masa depan. Lihat juga: Panduan Aman Bepergian untuk Pelajar dan Tips Mengelola Krisis Keluarga.



