Indo News Room – 10 April 2026 | Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memukau publik dengan aksi lukis Sungai Bengawan Solo, SBY gunakan teknik seniman legendaris Affandi pada 9 April 2026. Di sela-sela dukungan tim voli Lavani pada Proliga 2026, SBY menyalurkan kreativitasnya dengan finger painting, metode yang dipopulerkan oleh maestro Affandi, sambil menikmati atmosfer Kota Solo yang bersahabat. Meski hujan deras menghalangi proses, kegiatan ini tetap menjadi sorotan budaya dan seni di Indonesia.
Lukis Sungai Bengawan Solo, SBY gunakan teknik seniman legendaris Affandi: Latar Belakang
Acara berlangsung di kawasan Beton, Kelurian Sewu, Kecamatan Jebres, Solo. Ketua Dewan Pakar Demokrat, Andi Mallarangeng, menjelaskan bahwa SBY memanfaatkan jeda waktu antara pertandingan Proliga untuk mengekspresikan diri lewat seni lukis. “Dia ingin memperkenalkan model finger painting dalam berbagai lukisan lanskap Indonesia,” ujar Andi. Kegiatan ini tidak hanya sekadar hiburan pribadi, melainkan juga upaya memperkuat apresiasi seni tradisional di kalangan generasi muda.
Motivasi SBY dalam Melukis
- Menjembatani seni visual dengan olahraga melalui kehadiran tim voli Lavani.
- Menghidupkan kembali teknik finger painting yang diasosiasikan dengan Affandi.
- Menunjukkan kepedulian terhadap budaya lokal, termasuk kunjungan ke sentra batik Solo.
Finger Painting: Teknik yang Diadopsi SBY
Finger painting, atau melukis dengan jari, menuntut sentuhan langsung pada kanvas tanpa kuas. Teknik ini menciptakan tekstur yang khas dan mengekspresikan emosi seniman secara lebih spontan. Affandi, pelopor gerakan ini di Indonesia, dikenal karena penggunaan warna yang berani dan sapuan jari yang energetik.
| Aspek | Finger Painting (Affandi) | Brush Painting (Konvensional) |
|---|---|---|
| Alat | Jari tangan, kanvas, cat cair | Kuas, kanvas, cat |
| Tekstur | Kasar, berjejak langsung | Halus, tergantung kuas |
| Ekspresi | Spontan, emosional | Terkontrol, detail |
| Waktu pengerjaan | Lebih cepat untuk efek spontan | Lebih lama untuk detail |
Dengan mengadopsi teknik ini, SBY tidak hanya menghormati warisan Affandi, tetapi juga menantang persepsi publik tentang peran seorang mantan presiden dalam dunia seni.
Rangkaian Kegiatan SBY di Solo
Selain melukis, SBY menyempatkan diri menjelajahi kekayaan budaya Solo. Ia mengunjungi beberapa sentra batik, mencicipi kuliner khas seperti Nasi Liwet dan Serabi, serta berinteraksi dengan mahasiswa ISI yang mendampingi proses melukis.
- Kunjungan ke sentra batik di Pasar Klewer.
- Mencicipi gudeg Solo di warung tradisional.
- Menonton pertandingan Proliga dan memberikan semangat pada tim Lavani.
- Melukis di Pintu Air Demangan Baru menggunakan finger painting.
- Melanjutkan penyelesaian lukisan di hotel setelah hujan menghentikan aktivitas lapangan.
Interaksi dengan Wali Kota Solo
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menghampiri lokasi melukis dan menyambut SBY dengan hangat. SBY menyampaikan rasa terima kasih dan menganggap hujan sebagai berkah bagi Solo. “Kalau hujan itu selamat datang, insya Allah barokah untuk Solo dan kita semua,” ungkapnya sambil mengolok-olok cat yang menempel di tangannya.
Pengaruh Hujan Terhadap Proses Kreatif
Cuaca tak bersahabat menjadi tantangan utama. Hujan deras mengharuskan SBY memindahkan karya ke dalam ruangan hotel. Meskipun demikian, semangatnya tidak luntur. Ia melanjutkan lukisan dengan memperhatikan pencahayaan alami yang masuk melalui jendela, menciptakan nuansa yang berbeda dari eksposur outdoor.
Situasi ini menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam proses kreatif. SBY menunjukkan bahwa seni tidak terikat pada ruang fisik, melainkan pada intensi dan dedikasi seniman.
Relevansi Kegiatan terhadap Kebudayaan Nasional
Acara ini menjadi contoh konkret sinergi antara politik, olahraga, dan seni. Dengan mengangkat teknik Affandi, SBY mengangkat kembali nilai-nilai kebudayaan Indonesia yang sering terpinggirkan dalam era digital. Aktivitas ini juga menginspirasi generasi muda untuk mengeksplorasi seni lukis sebagai bentuk ekspresi diri.
Berikut beberapa dampak yang diharapkan:
- Peningkatan minat publik terhadap finger painting.
- Penguatan citra positif mantan pemimpin yang masih aktif berkarya.
- Promosi pariwisata budaya Solo melalui liputan media nasional.
- Kolaborasi antara seniman, atlet, dan pejabat dalam event berskala kecil.
Kesimpulan
Walaupun hujan menginterupsi proses, lukis Sungai Bengawan Solo, SBY gunakan teknik seniman legendaris Affandi tetap menjadi momen bersejarah yang mempertemukan seni tradisional dengan tokoh publik. Kegiatan ini menegaskan peran seni sebagai jembatan budaya, sekaligus menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap warisan seni Indonesia. Dengan semangat yang tak padam, SBY berhasil menuliskan jejak kreatifnya di kanvas Solo, memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin mengekspresikan diri melalui warna dan sentuhan.
Untuk memperdalam pemahaman tentang teknik finger painting, baca artikel lain: Panduan Finger Painting untuk Pemula. Bagi yang tertarik pada sejarah Affandi, lihat tulisan kami: Warisan Affandi dalam Seni Kontemporer Indonesia.



