Indo News Room – 13 April 2026 | Jong Ajax terus menjadi sorotan utama di dunia sepak bola Eropa, terutama setelah mantan gelandang muda Ajax, Ryan Gravenberck, menorehkan prestasi gemilang di Bayern Munchen dan Liverpool. Pernyataan terbaru dari bek tengah asal Limburg, Perr Schuurs, yang kini menjadi salah satu figur tak terikat klub, menegaskan kembali keunggulan Gravenberch dibandingkan rekan seangkatannya, Frenkie de Jong. Dalam wawancara eksklusif di acara Goedemorgen Eredivisie, Schuurs menilai tinggi badan, teknik, serta visi permainan Gravenberch sebagai faktor penentu yang jarang ditemui di kalangan pemain muda. Artikel ini mengupas tuntas mengapa jong ajax Ryan Gravenberch menjadi pilihan utama, dilengkapi analisis statistik, perbandingan dengan De Jong, serta implikasi bagi masa depan tim nasional Belanda.
Sejarah Singkat Jong Ajax: Dari Akademi Hingga Panggung Internasional
Ajax Amsterdam dikenal memiliki akademi terbaik di Belanda, bahkan Eropa, yang melahirkan generasi pemain berbakat sejak dekade 1970-an. Jong Ajax berfungsi sebagai jembatan antara tim junior dan tim utama, memberikan eksposur kompetitif di Eredivisie. Beberapa nama besar yang pernah melewati Jong Ajax meliputi Johan Cruyff, Dennis Bergkamp, hingga masa kini seperti Matthijs de Ligt dan Ryan Gravenberch. Keberhasilan akademi ini tak lepas dari filosofi permainan menyerang, teknik tinggi, serta pengembangan mental pemain sejak usia dini.
Perr Schuurs Mengungkap Pilihan Utama: Ryan Gravenberch vs Frenkie de Jong
Pada 12 April 2026, presenter Milan van Dongen menanyakan kepada Schuurs siapa rekan setim terbaiknya sepanjang masa. Tanpa ragu, Schuurs menjawab “Ryan Gravenberch” dan menambahkan bahwa pertanyaan mengenai perbandingan dengan Frenkie de Jong selalu muncul, namun baginya jawabannya tetap Gravenberch. “Gaya bermainnya, dengan tinggi badannya, itu sangat jarang ditemui. Selalu menentukan,” ujar Schuurs dengan penuh antusias.
Alasan Schuurs Memilih Gravenberch
- Tinggi dan Fisik: Gravenberch berdiri sekitar 1,88–1,90 meter, memberikan keunggulan dalam duel udara dan perlindungan bola.
- Teknik Tinggi: Memiliki kontrol bola yang halus, kemampuan mengoper dengan akurasi tinggi, serta kemampuan menembus pertahanan lawan.
- Visi Permainan: Selalu melihat ke belakang dua kali sebelum menerima bola, memastikan pilihan passing yang optimal.
- Pengalaman Internasional: Setelah meninggalkan Ajax pada 2022, Gravenberch bermain di Bayern Munchen dan Liverpool, memperkaya taktik dan mentalitas kompetisi tingkat tinggi.
Perbandingan Statistik Gravenberch dan De Jong (2023‑2025)
| Aspek | Ryan Gravenberch | Frenkie de Jong |
|---|---|---|
| Penampilan (Liga) | 68 | 71 |
| Gol | 9 | 6 |
| Assist | 12 | 14 |
| Pass Accuracy | 88,5% | 86,9% |
| Tackle Won per Game | 2,1 | 2,4 |
| Dribbles per Game | 1,8 | 2,0 |
| Key Passes per Game | 1,3 | 1,1 |
Data di atas menunjukkan bahwa meski De Jong tetap unggul dalam beberapa aspek defensif, Gravenberch menonjol dalam kontribusi menyerang dan akurasi operan, menegaskan pernyataan Schuurs mengenai keunikan gaya bermainnya.
Dampak Kepindahan Gravenberch dari Ajax ke Bayern dan Liverpool
Perpindahan Gravenberch ke Bayern Munchen pada 2022 menandai akhir era jong ajax yang beranjak ke panggung senior Eropa. Di Bayern, ia belajar menghadapi tekanan kompetisi Liga Champions, memperkuat kemampuan fisik, serta menambah pengalaman taktis di bawah asuhan Julian Nagelsmann. Selanjutnya, kepindahan ke Liverpool pada 2023 memberi peluang bermain di Premier League, mengasah kecepatan transisi dan adaptasi pada gaya permainan Inggris yang lebih fisik. Kedua pengalaman ini tidak hanya meningkatkan nilai pasar Gravenberch, tetapi juga memperkaya skill set yang dapat dibawa kembali ke tim nasional Belanda.
Kontribusi Gravenberch bagi Tim Nasional Belanda
Sejak debut internasionalnya pada 2021, Gravenberch menjadi figur penting dalam skuad Oranye. Penampilannya yang fleksibel—bisa bermain sebagai gelandang sentral, mezzala, atau bahkan penyerang sekunder—menjadi nilai tambah bagi pelatih. Pada Euro 2024, ia mencatatkan tiga assist dan satu gol penting melawan Austria, membantu Belanda mencapai fase semifinal. Keunggulan fisik dan kemampuan membaca permainan menjadikannya alternatif kuat bagi Frenkie de Jong, terutama dalam skema yang menuntut pressing tinggi dan penguasaan ruang.
Bagaimana Jong Ajax Menyiapkan Talenta Seperti Gravenberch?
Program pengembangan Jong Ajax menekankan tiga pilar utama: teknik individu, taktik kolektif, dan mentalitas kompetitif. Setiap pemain menjalani sesi latihan harian yang melibatkan:
- Latihan kontrol bola dalam tekanan tinggi.
- Simulasi pertandingan melawan tim senior untuk mengasah keputusan cepat.
- Pengembangan kebugaran fisik melalui program kebugaran terintegrasi.
Selain itu, akademi menyediakan mentor profesional, termasuk mantan pemain senior seperti Frank de Boer, yang membantu pemain muda menyesuaikan diri dengan ekspektasi dunia profesional.
Prospek Masa Depan Jong Ajax dan Pengaruh Gravenberch
Keberhasilan Gravenberch membuka jalur inspiratif bagi generasi berikutnya di Jong Ajax. Para pelatih kini lebih menekankan pada pengembangan pemain dengan profil fisik tinggi dan kemampuan teknis serba guna. Dengan adanya contoh nyata seperti Gravenberch, klub dapat menarik lebih banyak talenta muda yang memiliki ambisi menembus level internasional.
Dalam beberapa bulan ke depan, Jong Ajax diproyeksikan akan meluncurkan tiga pemain muda ke tim utama, termasuk seorang gelandang berusia 18 tahun yang menunjukkan kemampuan serupa dengan Gravenberch. Keberhasilan mereka akan menjadi indikator kuat bahwa model pengembangan jong ajax tetap relevan dan kompetitif di kancah sepak bola dunia.
FAQ
Apakah Ryan Gravenberch masih menjadi bagian dari tim utama Ajax?
Tidak. Gravenberch meninggalkan Ajax pada 2022 untuk bergabung dengan Bayern Munchen, sebelum pindah ke Liverpool pada 2023.
Berapa tinggi badan Ryan Gravenberch menurut statistik resmi?
Gravenberch memiliki tinggi badan sekitar 1,88‑1,90 meter, tergantung sumber yang mencatat.
Apa keunggulan utama Gravenberch dibandingkan Frenkie de Jong?
Keunggulan fisik, visi permainan yang mengutamakan pengamatan dua kali sebelum menerima bola, serta kontribusi ofensif yang lebih tinggi dalam hal gol dan assist.
Bagaimana Jong Ajax mendukung pengembangan pemain seperti Gravenberch?
Melalui program latihan intensif yang menggabungkan teknik, taktik, dan kebugaran, serta bimbingan dari mantan pemain senior.
Apakah ada link internal yang dapat dibaca pembaca untuk informasi lebih lanjut?
Untuk melihat detail transfer terbaru Ajax, kunjungi Berita Transfer Ajax 2026. Untuk menelusuri sejarah Jong Ajax, baca Sejarah Jong Ajax.
Dengan segala prestasi dan testimoni dari pemain senior seperti Perr Schuurs, tidak mengherankan jika Ryan Gravenberch tetap menjadi contoh utama jong ajax yang mampu menembus panggung internasional dan menjadi pilihan utama di hati pengamat sepak bola.



