Indo News Room – 09 April 2026 | KH Abdul Halim Mahfudz, sosok yang dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak di Jombang, meninggal dunia pada Rabu, 8 April 2026. Sebagai cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, beliau tidak hanya mewarisi garis keturunan ulama, tetapi juga menorehkan jejak kuat dalam dunia pesantren, jurnalistik, dan kewirausahaan modern. Artikel ini menyajikan Profil KH Abdul Halim Mahfudz pengasuh Ponpes Salafiyah Seblak yang wafat, cicit pendiri NU secara komprehensif, menggabungkan riwayat hidup, kontribusi, serta dampak yang ditinggalkan.
Profil KH Abdul Halim Mahfudz Pengasuh Ponpes Salafiyah Seblak yang Wafat, Cicit Pendiri NU
KH Abdul Halim Mahfudz lahir pada 17 Juli 1954 di Jombang. Ia dikenal dengan panggilan akrab “Gus Iim” atau “Gus Im”. Sebagai putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah, serta cicit KH Hasyim Asy’ari, Gus Iim tumbuh dalam lingkungan pesantren yang sarat nilai keagamaan dan tradisi keilmuan. Pendidikan formalnya dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Parimono, berlanjut ke Pendidikan Guru Agama (PGA) selama empat tahun, dan kemudian ke Sekolah Persiapan IAIN Jombang pada tahun 1971.
Latar Belakang Keluarga dan Garis Keturunan
- Ayah: KH Mahfudz Anwar – pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang.
- Ibu: Nyai Abidah – putri KH Ma’shum Ali dan Nyai Choiriyah, serta cucu perempuan KH Hasyim Asy’ari.
- Saudara: KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) – pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur.
Pendidikan dan Pengalaman Nyantri
Setelah menamatkan pendidikan di IAIN Jombang, ayahnya mengirimnya nyantri ke Lasem kepada KH Maksum, sahabat keluarga. Di sana, Gus Iim tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mengamati cara hidup seorang kiai, termasuk kegiatan tradisional seperti melinting tembakau untuk guru. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa “belajar bukan sekadar dari kitab, melainkan dari tutur dan laku”.
Karier di Dunia Jurnalistik dan Pesantren
Setelah menuntaskan pendidikan agama, Gus Iim menapaki dunia jurnalistik dengan bergabung menjadi wartawan di Harian Surya, Surabaya. Kariernya di media memberi ia platform untuk menyuarakan isu-isu pesantren, pendidikan, serta ekonomi kreatif. Meskipun aktif di dunia pers, Gus Iim tidak pernah melepaskan ikatan dengan pesantren. Ia tetap mengelola Pondok Pesantren Salafiyah Seblak, sebuah lembaga legendaris yang didirikan oleh KH Ma’shum Ali, mertua sekaligus gurunya.
Kontribusi Sebagai Pengasuh Ponpes Salafiyah Seblak
- Mengoptimalkan kurikulum tradisional dengan penambahan mata pelajaran teknologi informasi.
- Mendorong program kewirausahaan bagi santri melalui kemitraan dengan koperasi lokal.
- Menjalin jaringan kerjasama antar pesantren di Jawa Timur untuk pertukaran ilmu.
Semua inisiatif tersebut meningkatkan reputasi Ponpes Salafiyah Seblak sebagai pusat keilmuan yang adaptif dan berorientasi pada masa depan.
Timeline Kehidupan KH Abdul Halim Mahfudz
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1954 | Lahir di Jombang, Jawa Timur. |
| 1966 | Masuk MINU Parimono, memulai pendidikan dasar agama. |
| 1971 | Menempuh pendidikan PGA dan SP IAIN Jombang. |
| 1975 | Nyantri ke Lasem bersama KH Maksum. |
| 1980 | Mulai bergabung dengan Harian Surya sebagai wartawan. |
| 1990 | Ditunjuk sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak. |
| 2005 | Menginisiasi program kewirausahaan santri. |
| 2015 | Menjadi penasehat media bagi jaringan pesantren NU di Jawa Timur. |
| 2026 | Wafat pada 8 April di RS Madiun, usia 71 tahun. |
Dampak dan Warisan
Kepergian Gus Iim menimbulkan duka mendalam di kalangan pesantren, wartawan, dan masyarakat umum. Gus Bahar, putra kedua almarhum, menyampaikan terima kasih atas doa dan dukungan yang diterima keluarga selama perawatan. Selain itu, Gus Iim dikenal karena kemampuannya menjembatani dunia tradisional dan modern, sehingga pesantren yang dipimpinnya mampu bertahan dan berkembang di era digital.
Beberapa poin utama warisan Gus Iim antara lain:
- Integrasi teknologi: Penggunaan aplikasi pembelajaran daring untuk santri.
- Kewirausahaan: Pendirian unit usaha kecil berbasis agrikultur yang dikelola santri.
- Jaringan kolaboratif: Forum tahunan “Sinergi Pesantren Jawa Timur” yang masih berlangsung.
FAQ – Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa sebenarnya KH Abdul Halim Mahfudz?
KH Abdul Halim Mahfudz, atau Gus Iim, adalah wartawan, pengasuh Ponpes Salafiyah Seblak, dan cicit pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari.
Bagaimana kontribusi Gus Iim di dunia jurnalistik?
Ia menulis untuk Harian Surya, mengangkat isu-isu pendidikan pesantren, ekonomi kreatif, dan sosial‑kultural di Jawa Timur.
Apa saja program unggulan di Ponpes Salafiyah Seblak yang diprakarsai Gus Iim?
Program kewirausahaan santri, integrasi IT dalam kurikulum, serta forum kolaborasi antar pesantren.
Mengapa kepergian beliau dianggap kehilangan besar bagi NU?
Karena beliau merupakan penghubung generasi tradisional NU dengan tantangan modern, sekaligus mewarisi garis keturunan pendiri organisasi terbesar di dunia Islam.
Bagaimana cara mengenang Gus Iim?
Melalui kegiatan amal yang dijalankan di Ponpes Salafiyah Seblak, serta menguatkan semangat sinergi antara ilmu agama dan teknologi.
Untuk menambah wawasan, baca juga artikel lain: Sejarah Pondok Pesantren Tebuireng dan Peran Media dalam Pengembangan Pesantren di Era Digital.
Dengan menelusuri jejak hidupnya, generasi mendatang dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga warisan keilmuan sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman. Innalillahi wainnailaihi rajiun.



