HomeBeritaPengakuan Purbaya: Mengapa Biaya Whoosh Melejit—Pembebasan Lahan Lambat & Koordinasi Buruk

Pengakuan Purbaya: Mengapa Biaya Whoosh Melejit—Pembebasan Lahan Lambat & Koordinasi Buruk

Date:

Indo News Room – 22 April 2026 | Pemerintah Indonesia kembali menjadi sorotan publik setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap penyebab utama pembengkakan biaya Whoosh. Dalam konferensi pers di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, 22 April 2026, Purbaya menyampaikan bahwa lambatnya proses pembebasan lahan dan koordinasi antar lembaga menjadi faktor krusial yang menghambat proyek kereta cepat Whoosh.

Biaya Whoosh Melejit: Apa Penyebab Utamanya?

Proyek Whoosh, yang direncanakan menjadi jalur kereta cepat pertama di Jawa Barat, awalnya diproyeksikan dengan total biaya sekitar Rp 30 triliun. Namun, pada akhir 2025, estimasi biaya naik menjadi lebih dari Rp 45 triliun, menandakan peningkatan hampir 50 persen. Menurut Purbaya, dua hal utama menjadi penyebabnya:

Baca juga:
  • Pembebasan lahan yang lambat: Hanya 4 kilometer lahan yang berhasil dibebaskan setelah dua tahun konstruksi, menimbulkan penundaan signifikan.
  • Koordinasi antar lembaga yang tidak jelas: Proyek berpindah-pindah pengawasan antara Kementerian BUMN, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Tanpa adanya pengawasan terpadu, risiko cost overrun semakin tinggi, menambah beban utang negara.

Rangkaian Pengakuan Purbaya tentang Isu Whoosh

1. Penundaan Pembebasan Lahan

Purbaya mengingat keluhan langsung dari pihak China—pemilik mayoritas saham KCIC—yang menyoroti bahwa proses pembebasan lahan hanya mencapai 4 km setelah dua tahun berjalan. “Mereka mengadu ke BUMN, lalu ke PU, lagi ke sana,” kata Purbaya, menekankan ketidakefisienan birokrasi.

2. Koordinasi Lembaga yang Lemah

Menurutnya, tidak ada satu entitas yang secara resmi ditunjuk sebagai penanggung jawab utama proyek. Akibatnya, keputusan penting sering kali terhambat oleh proses persetujuan berulang-ulang antar kementerian.

3. Resiko dan Pembagian Beban

Purbaya menegaskan bahwa skema investasi antara Indonesia dan China bersifat risk‑sharing. Jika proyek mengalami kerugian, kedua belah pihak akan menanggung sebagian sesuai kesepakatan. “Ketika ada loss, urusan sini juga loss,” ujarnya.

Baca juga:

Perbandingan Estimasi Awal vs. Aktual Biaya Whoosh

Komponen Estimasi Awal (Rp Triliun) Realisasi 2025 (Rp Triliun)
Infrastruktur Rel 12 18
Stasiun & Fasilitas 5 7,5
Pembebasan Lahan 3 6
Pengadaan Rolling Stock 4 5,5
Biaya Manajemen & Konsultansi 2 4
Total 30 41

Data di atas menunjukkan kenaikan signifikan terutama pada komponen pembebasan lahan dan biaya manajemen, yang memang dipengaruhi oleh koordinasi yang tidak efektif.

Langkah Pemerintah ke Depan

Menanggapi kritik, Purbaya mengusulkan serangkaian reformasi:

  1. Mengintegrasikan pengawasan proyek ke satu kementerian atau badan khusus yang memiliki otoritas penuh.
  2. Mengimplementasikan sistem monitoring berbasis real‑time yang dapat diakses oleh semua pemangku kepentingan.
  3. Mempercepat proses pembebasan lahan melalui regulasi yang lebih tegas dan insentif bagi pemilik tanah.
  4. Menegakkan prinsip risk‑sharing yang transparan antara Indonesia dan mitra asing.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kredibilitas Indonesia di mata investor internasional, terutama China, yang menjadi mitra utama dalam proyek Whoosh.

Reaksi Publik dan Pengamat

Berbagai analis ekonomi menilai bahwa kegagalan koordinasi pada proyek Whoosh dapat menjadi contoh bagi proyek infrastruktur besar lainnya, seperti LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta‑Bandung. Salah satu pakar kebijakan publik menyebut, “Jika tidak ada pengawasan yang ketat, cost overrun akan menjadi pola berulang yang menggerogoti fiskal negara.”

Baca juga:

Baca liputan lengkap tentang LRT Jabodebek di artikel kami sebelumnya untuk melihat pola serupa dalam proyek transportasi massal.

Kesimpulan

Purbaya membuka tabir penyebab pembengkakan biaya Whoosh, menyoroti dua masalah utama: pembebasan lahan yang lambat dan koordinasi lembaga yang tidak terstruktur. Dengan rekomendasi reformasi pengawasan, sistem monitoring real‑time, dan kebijakan pembebasan lahan yang lebih efisien, pemerintah berharap dapat memulihkan kepercayaan investor dan mengendalikan beban utang proyek strategis. Keberhasilan implementasi langkah‑langkah ini akan menjadi tolok ukur bagi kelancaran proyek infrastruktur besar di masa depan.

Aissa Gandhari Taura
Aissa Gandhari Taura
Di tengah hiruk‑pikuk Medan, Aissa Gandhari Taura menyalakan lentera kata, menapaki jejak sastra yang berkelana ke ruang berita. Ia menenun kritik tajam bak pukulan tinju, sambil menatap galaksi dalam tiap film sci‑fi yang ia saksikan. Setiap tulisan melukis harapan, mengajak pembaca menari di antara realitas dan impian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related