HomeCuaca dan Lingkungan921 Hektare Lahan di Bromo Terbakar Selama 9 Hari: Cuaca Jadi Kendala...

921 Hektare Lahan di Bromo Terbakar Selama 9 Hari: Cuaca Jadi Kendala Pemadaman

Date:

Indo News Room – 12 Agustus 2026 | Kebakaran lahan di Gunung Bromo masih belum bisa dipadamkan. Pada hari ke-9, tim gabungan berusaha memadamkan api yang muncul sejak Selasa (3/8) di empat wilayah kabupaten yang berada di wilayah kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Kondisi Cuaca yang Kurang Mendukung

Cuaca yang kurang mendukung menjadi salah satu kendala utama dalam memadamkan api. Hembusan angin kencang dengan kecepatan 5-37 kilometer per jam membuat api cepat meluas. Selain itu, cuaca berkabut dan kepulan asap yang cukup tebal mempengaruhi visibilitas unit helikopter dalam operasi water bombing.

Baca juga:

Pengambilan Air untuk Water Bombing

Tim gabungan menggunakan Danau Ranupani dan Ranu Regulo sebagai sumber air untuk water bombing. Pemilihan kedua sumber air ini agar lebih dekat dan mulai menyusutnya debit air di Danau Ranupani.

Hasil Pemadaman Api

Total dari perhitungan sementara tim BPBD, area yang terbakar mencapai sekitar 921,42 hektare. Area yang terbakar didominasi jenis vegetasi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar.

Baca juga:

Tabel Komparasi Data Kebakaran Lahan

Wilayah Luas Area Terbakar (hektare)
Dingklik 500
P30 421,42

Bulletin Pemadaman Api

  • Tim gabungan masih berusaha memadamkan api di dua area.
  • Cuaca yang kurang mendukung masih menjadi kendala utama.
  • Pengambilan air untuk water bombing dilakukan di Danau Ranupani dan Ranu Regulo.

Saat ini, ketiga helikopter baik dari BNPB dan milik TNI AL dikerahkan untuk pendinginan titik api di wilayah Pakis Bincis, Dingklik, dan P30.

Kesimpulan: Kebakaran lahan di Gunung Bromo masih belum bisa dipadamkan. Cuaca yang kurang mendukung dan hembusan angin kencang menjadi kendala utama. Tim gabungan masih berusaha memadamkan api di dua area.

Baca juga:
Atmananda Anacleto Tymothy
Atmananda Anacleto Tymothy
Aku masih ingat saat pertama kali Atmananda mengendarai motor tua melintasi pasar tradisional Surabaya, mencatat cerita-cerita yang kini jadi artikel‑artikelnya; sejak 2022, ia menapaki jejak jurnalistik sambil terus mengejar riff gitar indie yang selalu mengalun di sela‑sela perjalanan. Dari Yogyakarta, ia menjelajah nusantara, menukar kopi dengan para nelayan, mengabadikan suara laut dan deru mesin, hingga menulis laporan yang terasa seperti obrolan santai di kafe pinggir jalan. Hobi otomotifnya tak pernah jauh, begitu pula selera musiknya yang selalu menemukan nada baru di setiap sudut pulau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related