Indo News Room – 13 April 2026 | Steven Wongso kembali menjadi sorotan publik setelah mengunggah serangkaian video yang menyinggung orang gendut dengan perbandingan yang kontroversial, menyamakan mereka dengan anjing. Pernyataan tersebut memicu gelombang kemarahan dari berbagai kalangan, termasuk figur publik, dokter, dan netizen di seluruh Indonesia. Kontroversi ini menambah deretan kasus viral yang melibatkan Steven Wongso, mulai dari kritik tajam terhadap penjual martabak hingga tuduhan penggunaan steroid anabolik.
Kontroversi Pernyataan Steven Wongso tentang Orang Gendut
Video pertama yang diunggah pada 8 April 2026 menampilkan Steven Wongso berujar, “Bahkan kalian orang gendut ini lebih rendah daripada anjing lho!” Kalimat tersebut langsung menjadi bahan perbincangan di media sosial. Dalam tiga video berurutan, Steven memperlihatkan seekor anjing yang tetap terus makan meski sudah kenyang, kemudian menyamakan perilaku tersebut dengan orang yang memiliki berat badan berlebih. Pada video ketiga, Steven mencoba membela diri dengan mengaku sedang diet dan menyebut dirinya “gondok seperti anjing”.
Latar Belakang dan Video Viral
- Video pertama dirilis pada Rabu, 8 April 2026 melalui akun Instagram @steven__wongso.
- Durasi masing-masing video berkisar antara 30 hingga 45 detik.
- Konten tersebut mendapatkan lebih dari 2 juta tayangan dalam 24 jam pertama.
Keberanian Steven Wongso dalam menyampaikan komentar yang menyinggung kelompok tertentu menimbulkan pertanyaan mengenai batas etika dalam konten digital. Meskipun ia berargumen bahwa tujuannya adalah memotivasi perubahan gaya hidup, banyak pihak menilai pendekatannya terlalu provokatif.
Reaksi Publik dan Figur Publik
Berbagai figur publik memberikan respons keras. Salah satunya adalah kreator konten Ery Makmur yang secara terbuka mengkritik pernyataan Steven Wongso. “Membawa wujud asli anjing dan menyamakan orang gendut dengan anjing.. nggak punya nurani sih,” tulis Ery Makmur dalam komentar Instagramnya. Ery juga mengundang Steven untuk bertemu secara langsung, namun ajakan tersebut tidak direspons.
Selain Ery Makmur, dokter Adam Prabata menyoroti kebiasaan Steven Wongso yang sebelumnya mengakui penggunaan steroid anabolik. Dr. Adam menuliskan di akun X, “Izin mengingatkan juga mengenai efek bahaya dari steroid anabolik untuk membesarkan otot. Risiko serangan jantung meningkat hingga 300 persen.”
| Pernyataan Steven Wongso | Reaksi Publik |
|---|---|
| Orang gendut lebih rendah dari anjing | Kemarahan netizen, kritik Ery Makmur, panggilan untuk bertemu |
| Penjual martabak seperti penjual narkoba | Hujatan dari pedagang, klarifikasi dokter Adam |
| Penggunaan steroid untuk menambah massa | Peringatan kesehatan, diskusi tentang etika influencer |
Hubungan dengan Konten Martabak dan Steroid
Sebelum kontroversi terbaru, Steven Wongso sempat memancing kegaduhan dengan menyamakan penjual martabak manis dengan penjual narkoba. Ia menuding bahwa penjual martabak banyak dosa karena mengandung gula berlebih. Video tersebut juga menjadi viral dan menambah daftar kritik terhadapnya.
Tak lama setelahnya, dr. Adam Prabata menanggapi riwayat penggunaan steroid anabolik yang diakui Steven Wongso dalam sebuah wawancara tahun 2025. Dr. Adam mengutip sebuah studi tahun 2025 yang dipublikasikan dalam jurnal *Circulation*, yang menunjukkan peningkatan risiko serangan jantung hingga 300 persen pada pengguna steroid anabolik selama 11 tahun.
Analisis Dampak Sosial Media Terhadap Karier Influencer
Kontroversi Steven Wongso menggambarkan dinamika hubungan antara influencer, audiens, dan regulasi konten digital. Berikut beberapa poin penting yang dapat diambil:
- Kecepatan penyebaran: Video berdurasi singkat dapat mencapai jutaan penonton dalam hitungan jam, memperbesar potensi dampak negatif.
- Respons publik: Reaksi cepat dari figur publik lain, seperti Ery Makmur, meningkatkan eksposur isu dan menambah tekanan pada influencer.
- Isu kesehatan: Penggunaan steroid oleh influencer menimbulkan pertanyaan etis, terutama bila disertai promosi gaya hidup tidak sehat.
- Regulasi platform: Platform seperti Instagram dan X masih berupaya mengatur konten yang mengandung hate speech atau misinformasi.
- Strategi pemulihan citra: Permintaan maaf publik, kolaborasi dengan ahli kesehatan, atau perubahan konten dapat menjadi langkah mitigasi.
Steven Wongso belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyesalan atau rencana perbaikan. Namun, pergerakan publik menunjukkan bahwa influencer dengan basis pengikut besar harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan.
FAQ tentang Kontroversi Steven Wongso
Apakah Steven Wongso memang menggunakan steroid? Steven Wongso pernah mengakui penggunaan steroid anabolik dalam sebuah video pada tahun 2025. Namun, tidak ada bukti medis resmi yang mengonfirmasi hal tersebut.
Berapa banyak penonton yang menonton video kontroversial tersebut? Diperkirakan lebih dari 2 juta tayangan dalam 24 jam pertama, dengan total interaksi (like, komentar, share) mencapai 350 ribu.
Apakah ada tindakan hukum terhadap Steven Wongso? Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi mengenai tindakan hukum. Namun, pihak platform media sosial dapat melakukan penangguhan akun jika melanggar kebijakan hate speech.
Bagaimana cara menghindari konten yang menyinggung? Selalu periksa kebijakan komunitas platform, hindari generalisasi kelompok tertentu, dan pertimbangkan dampak psikologis pada audiens.
Kontroversi Steven Wongso menjadi pelajaran penting bagi semua kreator konten digital untuk menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab sosial. Dengan semakin ketatnya regulasi dan kesadaran publik, diharapkan influencer dapat mengedukasi tanpa menyinggung, serta menjaga integritas diri di dunia maya.



