Indo News Room – 23 Juli 2026 | Mungkin kamu masih ingat rasanya ketika dulu berhasil mencapai sesuatu yang pernah lama diimpikan. Diterima di kampus impian, mendapatkan pekerjaan pertama, atau akhirnya bisa membeli barang dari hasil kerja sendiri. Saat itu, semua terasa begitu membahagiakan.
Namun, kebahagiaan itu sering kali tidak bertahan lama. Beberapa minggu kemudian, muncul target baru. Setelah mendapat pekerjaan, kita mulai memikirkan kenaikan jabatan. Setelah penghasilan meningkat, kita ingin memiliki kendaraan yang lebih baik. Ketika berhasil membeli rumah, muncul keinginan untuk memiliki rumah yang lebih besar. Seolah-olah, setiap pencapaian hanya menjadi titik awal menuju daftar keinginan berikutnya.
Tanpa disadari, mungkin hidup kita sebenarnya tidak semakin sulit. Yang berubah adalah standar tentang apa yang kita anggap sebagai ‘cukup’.
Fenomena Digital
Dalam era digital, kita bisa melihat teman yang baru lulus kuliah, rekan kerja yang mendapat promosi, seseorang yang membangun bisnisnya sendiri, hingga orang lain yang sedang menikmati liburan di luar negeri. Semua pencapaian itu hadir bersamaan di layar ponsel, membuat kita tanpa sadar menetapkan standar baru bagi kehidupan sendiri.
Standar yang Membuat Kita Tak Cukup
- Pekerjaan yang sebelumnya terasa istimewa kini terasa biasa.
- Liburan yang dulu menjadi momen beristirahat kini terasa kurang lengkap jika tidak menghasilkan foto yang menarik untuk dibagikan.
- Waktu luang pun perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus tetap terlihat produktif.
Hal serupa juga dijelaskan filsuf Alain de Botton dalam Status Anxiety. Menurutnya, kecemasan modern sering kali muncul bukan karena seseorang hidup dalam kekurangan, tetapi karena ia terus membandingkan posisinya dengan orang lain. Standar keberhasilan tidak lagi dibentuk oleh kebutuhan pribadi, melainkan oleh apa yang dianggap berhasil oleh lingkungan sekitar.
Rasa Cukup dan Hidup yang Lebih Ringan
Rasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Rasa cukup adalah kemampuan untuk tetap menghargai apa yang sudah dimiliki, sambil tetap melangkah menuju tujuan berikutnya. Karena hidup tidak selalu menjadi lebih ringan ketika kita memiliki lebih banyak. Terkadang, hidup justru terasa lebih ringan ketika kita berhenti menganggap bahwa ‘lebih’ adalah satu-satunya cara untuk merasa bahagia.



