HomeBeritaKetika Guru Tak Lagi Didengar: Pelajaran Sosiologis dari Teach You a Lesson

Ketika Guru Tak Lagi Didengar: Pelajaran Sosiologis dari Teach You a Lesson

Date:

Indo News Room – 02 Juli 2026 | Kalau guru sudah takut menegur, siapa yang akan mendidik?

Pertanyaan itu muncul setelah menonton serial Korea berjudul Teach You a Lesson. Serial tersebut menyampaikan kritik tajam terhadap dunia pendidikan, tidak hanya menggambarkan siswa yang melanggar aturan, tetapi juga membahas tentang sekolah yang kehilangan wibawa sebagai tempat membentuk karakter siswa.

Baca juga:

Pelajaran Sosiologis dari Teach You a Lesson

Serial tersebut menunjukkan konflik di sekolah, seperti perundungan, kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan campur tangan orang tua yang membuat guru kesulitan menerapkan aturan. Meskipun terlihat dramatis, persoalan ini sangat dekat dengan realitas pendidikan di Indonesia saat ini.

Realitas Pendidikan di Indonesia

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat 329 pengaduan kasus terkait kekerasan di lingkungan pendidikan per tahun 2023. Kasus perundungan merupakan yang paling banyak dilaporkan, dan banyak korban yang memilih untuk diam.

Baca juga:

Krisis Otoritas dan Nilai

Pada serial Teach You a Lesson, guru digambarkan takut bertindak karena khawatir menjadi permasalahan dan takut menimbulkan dampak negatif bagi guru. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya menghadapi akademik, tetapi juga krisis otoritas dan nilai.

Keseimbangan Perlindungan dan Kewenangan

Kalimat ‘Kalau guru takut murid, dunia akan hancur’ memiliki pesan sederhana: pendidikan harus memiliki keseimbangan antara perlindungan siswa dengan kewenangan guru untuk mendidik secara profesional dan sesuai aturan. Disiplin tidak boleh digambarkan sebagai kekerasan, tetapi juga tidak boleh dihilangkan karena kebebasan.

Baca juga:

Tanpa aturan yang dihormati, sekolah akan kehilangan fungsinya sebagai tempat membentuk karakter siswa. Pada serial ini, diingatkan bahwa pendidikan bukan tanggung jawab seorang guru, tetapi juga tanggung jawab orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

Sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang bebas dari masalah, tetapi sekolah yang mampu menyelesaikan permasalahan dengan mengutamakan keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan. Ketika guru tak lagi didengar, yang dipertaruhkan bukan hanya wibawa sekolah, tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.

Atmananda Anacleto Tymothy
Atmananda Anacleto Tymothy
Aku masih ingat saat pertama kali Atmananda mengendarai motor tua melintasi pasar tradisional Surabaya, mencatat cerita-cerita yang kini jadi artikel‑artikelnya; sejak 2022, ia menapaki jejak jurnalistik sambil terus mengejar riff gitar indie yang selalu mengalun di sela‑sela perjalanan. Dari Yogyakarta, ia menjelajah nusantara, menukar kopi dengan para nelayan, mengabadikan suara laut dan deru mesin, hingga menulis laporan yang terasa seperti obrolan santai di kafe pinggir jalan. Hobi otomotifnya tak pernah jauh, begitu pula selera musiknya yang selalu menemukan nada baru di setiap sudut pulau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

ITPLN Gandeng APITU: Membangun Masa Depan Pendingin yang Lebih Efisien

Indo News Room – 02 Juli 2026 | Dalam...

Rayhan Hannan Masuk Skuad TC Timnas: Persiapan Piala AFF 2026

Indo News Room – 02 Juli 2026 | Rayhan...

Indonesia Darurat Spam Telepon: Cara Memblokir dan Melindungi Privasi

Indo News Room – 02 Juli 2026 | Indonesia...